• http://www.axi.com/int
  • http://www.axi-solaris.com/eu
  • http://www.axi.com/uk
  • http://www.axi.com/au
  • http://www.axi.group/ar
  • http://www.axi.group/en-ae
  • /en-my
  • http://www.axi.investments/cn
  • http://www.axi.investments/chn
  • http://www.axi.com/es-mx
  • http://www.axi.com/fr-ma
  • /id
  • /it-ch
  • http://www.axi.com/jp
  • http://www.axi.com/kr
  • http://www.axi-solaris.com/pl
  • http://www.axi.com/pt
  • http://www.axi.com/th
  • http://www.axi.com/tw
  • /vn
  • http://www.axi.com/za
  • http://www.axi.com/ur
Loading...

Apa Itu OPEC? Daftar Anggota, Tujuan, dan Manfaatnya

Education /
Milan Cutkovic

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) adalah sebuah organisasi antarpemerintah yang terdiri dari 11 negara, yang semuanya merupakan produsen minyak utama atau memiliki peran penting dalam industri minyak.

Negara-negara anggota OPEC mengoordinasikan dan menyelaraskan kebijakan perminyakan mereka, serta memastikan bahwa seluruh peserta di pasar minyak bertindak sesuai dengan kepentingan bersama OPEC secara keseluruhan. Trader yang tertarik pada trading minyak sebaiknya memahami cara kerja OPEC dan mempelajari berbagai keputusan yang diambil dalam pertemuan OPEC.

Dalam artikel ini, kami akan membahas semua hal yang perlu Anda ketahui tentang salah satu organisasi antarpemerintah paling berpengaruh di dunia. Lanjutkan membaca untuk mempelajari lebih lanjut mengenai sejarah, tujuan, dan dampak OPEC terhadap pasar global.

 

Daftar isi

 

Apa itu OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak)?

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) adalah sebuah organisasi antarpemerintah yang terdiri dari 11 negara anggota, yang awalnya didirikan pada tahun 1960 di Baghdad. OPEC dibentuk untuk mengoordinasikan kebijakan produksi minyak dan meningkatkan kerja sama di antara negara-negara anggotanya. Organisasi ini memiliki pengaruh besar terhadap harga minyak global. Tidak lama setelah penurunan signifikan harga minyak pada periode 2014 hingga 2016, OPEC+ dibentuk untuk membantu organisasi tersebut memperluas pengaruhnya di pasar minyak global.

Siapa Sekretaris Jenderal OPEC?

Sekretaris Jenderal merupakan perwakilan OPEC sekaligus Kepala Eksekutif Sekretariat. Sekretaris Jenderal diangkat untuk masa jabatan tiga tahun dan hanya dapat diperpanjang satu kali untuk masa jabatan tiga tahun berikutnya.

Sekretaris Jenderal saat ini adalah Haitham Al Ghais dari Kuwait, yang mulai menjabat pada Agustus 2022. Masa jabatannya diperpanjang selama tiga tahun lagi, efektif mulai 1 Agustus 2025.

 

Apa tujuan OPEC?

Menurut anggaran dasar OPEC, misinya adalah: "Mengoordinasikan dan menyelaraskan kebijakan perminyakan negara-negara anggotanya serta memastikan stabilitas pasar minyak guna menjamin pasokan minyak yang efisien, ekonomis, dan berkelanjutan kepada konsumen, pendapatan yang stabil bagi para produsen, serta imbal hasil yang adil bagi para investor di industri perminyakan."

Dengan kata lain, kartel ini berupaya mengelola pasokan minyak untuk memengaruhi harga minyak di pasar global. OPEC juga menyediakan berbagai informasi penting kepada publik mengenai pasar minyak dunia.

Secara umum, OPEC memiliki tiga tujuan utama:

  • Mengoordinasikan tingkat produksi setiap anggota melalui sistem kuota untuk menjaga stabilitas harga minyak
  • Mengurangi volatilitas harga minyak dengan mengelola produksi dan pasokan minyak agar tetap memberikan keuntungan semaksimal mungkin bagi negara-negara anggota OPEC
  • Menyesuaikan pasokan minyak untuk mengatasi kekurangan maupun kelebihan pasokan, yang juga dapat membantu mengurangi volatilitas harga minyak di pasar internasional

 

Sejarah OPEC

OPEC didirikan pada tahun 1960 dalam Konferensi Baghdad yang dihadiri oleh Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Venezuela. Pada awalnya, organisasi ini berkantor pusat di Jenewa, Swiss, namun lima tahun kemudian memindahkan kantor pusatnya ke Wina, Austria.

Pengaruh OPEC meningkat secara signifikan selama dekade 1970-an seiring semakin banyaknya negara anggota yang memperoleh kendali lebih besar atas industri perminyakan mereka. Krisis besar pertama terjadi pada Oktober 1973, ketika negara-negara Arab penghasil minyak memberlakukan embargo terhadap Amerika Serikat dan beberapa negara lain yang mendukung Israel selama Perang Yom Kippur. Embargo tersebut, bersama dengan pengurangan produksi, menyebabkan penurunan tajam pasokan minyak yang tersedia serta kenaikan signifikan harga minyak dunia.

Hal ini kemudian diikuti oleh krisis minyak tahun 1979, ketika Revolusi Iran menyebabkan penurunan tajam produksi minyak global. Perang Iran-Irak yang dimulai pada tahun 1980 semakin mengurangi pasokan minyak dunia.

OPEC mengalami masa yang penuh tantangan pada dekade 1980-an ketika harga minyak anjlok pada paruh kedua dekade tersebut. Harga minyak tetap berada pada tingkat yang relatif rendah sepanjang tahun 1990-an, namun kemudian mengalami tren kenaikan yang sangat kuat mulai tahun 1999 hingga berakhir pada tahun 2008, ketika ekonomi dunia menghadapi Resesi Hebat.

Harga minyak kemudian pulih secara bertahap, sebelum kembali anjlok pada tahun 2014. Antara tahun 2014 hingga 2016 terjadi salah satu penurunan harga minyak terbesar dalam sejarah. Penyebab utama kejatuhan tersebut adalah pesatnya peningkatan produksi minyak serpih (shale oil) di Amerika Serikat serta melemahnya permintaan global. 

Pemulihan yang dimulai pada tahun 2018 tidak berlangsung lama. Perang harga minyak antara Rusia dan Arab Saudi pada tahun 2020 serta pandemi COVID-19 menyebabkan kejatuhan harga yang sangat tajam hingga harga minyak sempat memasuki wilayah negatif. 

Pandemi dan kebijakan lockdown yang diberlakukan di banyak negara di seluruh dunia pada Maret 2020 menyebabkan penurunan permintaan minyak yang signifikan. Perusahaan-perusahaan minyak terpaksa menyewa kapal tanker untuk menyimpan kelebihan pasokan minyak mereka, yang mendorong harga komoditas tersebut menjadi negatif—sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pada awal tahun 2022, harga minyak mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun. Perekonomian dunia pulih jauh lebih cepat dari dampak pandemi dibandingkan perkiraan awal, begitu pula dengan permintaan minyak. Ketegangan geopolitik juga memainkan peran penting.

Setelah harga minyak melonjak pada tahun 2022, OPEC+ memasuki periode yang lebih menantang. Peningkatan produksi dari negara-negara non-OPEC, khususnya Amerika Serikat, Brasil, dan Guyana, menciptakan persaingan yang lebih kuat pada saat permintaan global mulai melambat.

Sebagai respons, OPEC+ menerapkan serangkaian pemangkasan produksi sukarela sepanjang tahun 2023 dan 2024 untuk mendukung harga minyak. Namun, mempertahankan pembatasan tersebut dalam waktu yang lama menimbulkan ketegangan di dalam kelompok, terutama di antara negara-negara yang telah berinvestasi besar dalam meningkatkan kapasitas produksi mereka dan ingin menaikkan output. Perbedaan pendapat ini pada akhirnya menyebabkan perubahan besar dalam keanggotaan organisasi. Angola keluar dari OPEC pada Januari 2024, diikuti oleh Uni Emirat Arab pada Mei 2026.

Siapa saja anggota OPEC?

Anggota pendiri OPEC adalah:

  • Iran: Iran memiliki salah satu cadangan minyak terbukti terbesar di dunia. Namun, sanksi internasional dan bertahun-tahun minimnya investasi telah membatasi perkembangan industri perminyakannya serta memengaruhi kemampuannya untuk memproduksi dan mengekspor minyak mentah.
  • Irak: Irak merupakan salah satu produsen minyak mentah terbesar di OPEC dan juga produsen utama cairan petroleum. Negara ini juga memiliki cadangan minyak mentah terbukti terbesar kelima di dunia, yang diperkirakan mencapai sekitar 145 miliar barel.
  • Kuwait: Kuwait adalah salah satu produsen minyak utama, dan industri perminyakan tetap menjadi tulang punggung perekonomian, ekspor, serta keuangan publik negara tersebut.
  • Arab Saudi: Arab Saudi memiliki sekitar 17% dari total cadangan minyak bumi terbukti di dunia. Negara ini merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia dan sejauh ini merupakan produsen terbesar di OPEC.
  • Venezuela: Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Meskipun demikian, runtuhnya perekonomian dan sanksi internasional telah melumpuhkan industri perminyakannya.

Negara-negara berikut bergabung dengan OPEC setelah lama berdiri:

  • Qatar (1961)
  • Indonesia (1962)
  • Libya (1962)
  • Uni Emirat Arab (1967)
  • Aljazair (1969)
  • Nigeria (1971)
  • Ekuador (1973)
  • Gabon (1975)
  • Angola (2007)
  • Guinea Khatulistiwa (2017)
  • Republik Kongo (2018)

Setelah keluarnya Uni Emirat Arab pada 1 Mei 2026, OPEC memiliki 11 negara anggota:

  • Aljazair
  • Republik Kongo
  • Guinea Khatulistiwa
  • Gabon
  • Iran
  • Irak
  • Kuwait
  • Libya
  • Nigeria
  • Arab Saudi
  • Venezuela

Mantan anggota OPEC meliputi Angola, Ekuador, Indonesia, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Gabon keluar dari OPEC pada tahun 1995, namun bergabung kembali dengan organisasi tersebut pada tahun 2016.

Kelompok OPEC+ saat ini terdiri dari 11 anggota OPEC dan 10 negara produsen minyak non-OPEC yang berpartisipasi.

 

Apa itu OPEC+?

OPEC+ adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kelompok yang terdiri dari 21 negara produsen minyak, yaitu seluruh anggota OPEC dan 10 negara non-OPEC. Aliansi antara OPEC dan negara-negara produsen minyak non-OPEC ini dibentuk pada tahun 2016 di Aljazair. Secara bersama-sama, negara-negara OPEC+ menyumbang porsi yang sangat besar terhadap produksi minyak mentah dunia. Berdasarkan tingkat produksi tahun 2025, pangsa produksi kelompok ini turun dari sekitar 46% menjadi sekitar 42% setelah keluarnya Uni Emirat Arab pada Mei 2026.

Rusia merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia dan secara tradisional memainkan peran utama di antara negara-negara non-OPEC yang berpartisipasi dalam OPEC+.

Peringkat Rusia dalam produksi minyak dunia dapat berbeda-beda, tergantung pada apakah perhitungannya didasarkan pada produksi minyak mentah saja, minyak mentah dan kondensat, atau total cairan petroleum.

Negara-negara non-OPEC yang tergabung dalam OPEC+ adalah:

  • Azerbaijan
  • Bahrain
  • Brunei
  • Kazakhstan
  • Malaysia
  • Meksiko
  • Oman
  • Rusia
  • Sudan Selatan
  • Sudan

 

Apa itu pertemuan OPEC?

OPEC mengadakan pertemuan secara berkala. Pertemuan yang paling penting adalah Pertemuan Tingkat Menteri, yang diselenggarakan setidaknya dua kali dalam setahun, atau lebih sering jika diperlukan. Setiap negara anggota memiliki satu hak suara. Pimpinan eksekutif OPEC adalah Sekretaris Jenderal.

Pertemuan-pertemuan ini dapat memberikan dampak yang besar terhadap pasokan minyak global dan harga minyak. Trader sebaiknya mengikuti perkembangan pertemuan terbaru dan agenda yang akan datang karena kuota produksi minyak ditetapkan oleh negara-negara anggota OPEC dalam pertemuan tersebut.

Bagaimana pertemuan OPEC memengaruhi pasar

OPEC dan OPEC+ secara rutin mengadakan pertemuan untuk membahas tingkat produksi minyak dan menyepakati target produksi bagi negara-negara anggotanya. Karena keputusan-keputusan ini dapat meningkatkan atau mengurangi pasokan minyak mentah global, setiap pengumuman yang akan datang selalu dipantau dengan saksama dan sering kali memicu volatilitas jangka pendek di pasar energi.

Trader komoditas sebaiknya memantau kalender ekonomi untuk mengetahui jadwal pertemuan OPEC+. Keputusan untuk mengurangi atau meningkatkan produksi dapat menggerakkan harga acuan minyak utama, termasuk Brent dan WTI, hanya dalam hitungan menit setelah pengumuman.

Prospek Minyak Dunia

World Oil Outlook (WOO) adalah publikasi OPEC yang, menurut organisasi tersebut, bertujuan "menyoroti dan meningkatkan pemahaman mengenai berbagai tantangan dan peluang yang mungkin dihadapi industri minyak di masa depan."

World Oil Outlook disusun berdasarkan keahlian Sekretariat OPEC, para profesional dari negara-negara anggota OPEC, serta Dewan Komisi Ekonomi organisasi tersebut.

OPEC menyediakan edisi terbaru WOO beserta arsip seluruh laporan tahunan World Oil Outlook di situs resminya. OPEC mulai menerbitkan publikasi ini pada tahun 2007 dan merilis edisi terbaru setiap tahun untuk mencerminkan perubahan tren energi dan pola permintaan.

 

Potensi manfaat OPEC:

  • Mendorong kerja sama dan dialog di antara negara-negara produsen minyak utama
  • Memungkinkan negara anggota mengoordinasikan kebijakan perminyakan dan target produksi
  • Berupaya mengurangi ketidakseimbangan pasokan yang ekstrem serta volatilitas harga yang merugikan
  • Menerbitkan data pasar, laporan statistik, dan proyeksi energi jangka panjang
  • Menyediakan forum bagi negara-negara produsen untuk membahas tantangan bersama di pasar

 

Keterbatasan dan kritik terhadap OPEC:

  • Negara-negara anggota tidak selalu sepenuhnya mematuhi target produksi yang telah disepakati
  • Produsen yang lebih besar dapat memiliki pengaruh yang lebih besar dalam pengambilan keputusan kelompok
  • Pembatasan produksi dapat menyebabkan kenaikan harga minyak dan bahan bakar
  • Negara anggota dapat memiliki prioritas fiskal, politik, dan produksi yang saling bertentangan
  • OPEC tidak dapat sepenuhnya mengendalikan harga minyak karena harga juga dipengaruhi oleh permintaan, produksi dari negara-negara non-OPEC, tingkat persediaan, kondisi geopolitik, serta pasar keuangan

Bagaimana OPEC memengaruhi harga minyak?

Negara-negara anggota OPEC menyepakati jumlah minyak yang akan diproduksi, sehingga mereka memiliki kemampuan untuk memengaruhi harga minyak. Meskipun dampak jangka panjang OPEC terhadap harga minyak relatif terbatas, pengaruhnya dalam jangka pendek bisa sangat signifikan.

Anggota OPEC diuntungkan oleh harga minyak yang tinggi karena hal tersebut meningkatkan pendapatan mereka. Namun, di saat yang sama, negara-negara anggota juga tidak ingin mengurangi pasokan secara berlebihan karena hal itu justru dapat mengurangi pendapatan mereka di kemudian hari. 

Di sisi lain, OPEC sewaktu-waktu dapat memutuskan untuk meningkatkan produksi minyak. Hal ini dapat terjadi ketika beberapa negara anggota tidak mampu mempertahankan tingkat produksi normal mereka. Saat ini, sejumlah produsen OPEC+ secara bertahap mulai mencabut pemangkasan produksi sukarela tambahan yang diberlakukan pada tahun 2023.

Pemulihan tingkat produksi tetap bergantung pada kondisi pasar, dan negara-negara yang berpartisipasi dapat menunda atau membatalkan rencana peningkatan produksi apabila kondisi permintaan dan pasokan berubah. Pada akhirnya, seperti pasar lainnya, pasar minyak digerakkan oleh mekanisme permintaan dan penawaran. Namun, OPEC+ dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pasar, terutama dalam jangka pendek, mengingat besarnya porsi pasokan minyak dunia yang berada di bawah kendali mereka.

Apakah Amerika Serikat merupakan bagian dari OPEC?

Amerika Serikat bukan merupakan anggota OPEC.

Meskipun demikian, Amerika Serikat adalah salah satu produsen dan konsumen minyak terbesar di dunia. Oleh karena itu, perubahan dalam produksi, persediaan, impor, dan ekspor minyak AS dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap pasar minyak global.

Secara keseluruhan, Amerika Serikat merupakan eksportir bersih produk petroleum, tetapi masih menjadi importir bersih minyak mentah. Hal ini mencerminkan perbedaan antara jenis minyak mentah yang diproduksi di dalam negeri, kebutuhan kilang minyak di AS, serta pola perdagangan internasional.

Mengapa Indonesia keluar dari OPEC?

Indonesia bergabung dengan OPEC pada 1962. Namun, pemerintah memutuskan untuk membekukan keanggotaannya pada 2008, dan keputusan tersebut berlaku efektif mulai Januari 2009. Indonesia kemudian kembali menjadi anggota aktif pada Januari 2016, sebelum membekukan keanggotaannya lagi pada 30 November 2016.

Pembekuan pertama terjadi setelah Indonesia berubah dari negara pengekspor menjadi importir bersih minyak. Konsumsi energi domestik terus meningkat, sementara produksi minyak dalam negeri menurun sehingga kepentingan Indonesia tidak lagi sepenuhnya sejalan dengan negara-negara pengekspor minyak lainnya.

Pada 2016, pemicu langsungnya adalah kesepakatan OPEC untuk memangkas produksi minyak. Indonesia diminta mengurangi produksi sekitar 5%, atau 37.000 barel per hari, sedangkan pemerintah hanya dapat menerima pengurangan sekitar 5.000 barel per hari sesuai dengan asumsi produksi dalam RAPBN 2017.

Sebagai importir bersih minyak, Indonesia juga berpotensi dirugikan apabila pemangkasan produksi OPEC mendorong kenaikan harga minyak dunia. Pada saat yang sama, pengurangan produksi yang lebih besar dapat menekan penerimaan negara dari sektor minyak. Karena itu, pemerintah memilih membekukan keanggotaannya agar tidak terikat pada kuota pemangkasan tersebut.

Informasi ini tidak boleh ditafsirkan sebagai rekomendasi, penawaran untuk membeli atau menjual, atau ajakan untuk membeli atau menjual sekuritas, produk keuangan, maupun instrumen keuangan apa pun, atau untuk berpartisipasi dalam strategi trading apa pun. Materi ini disusun tanpa mempertimbangkan tujuan investasi, situasi keuangan, maupun kebutuhan Anda. Setiap referensi terhadap kinerja masa lalu dan proyeksi bukan merupakan indikator yang dapat diandalkan untuk hasil di masa mendatang. Axi tidak memberikan pernyataan maupun jaminan, serta tidak bertanggung jawab atas keakuratan dan kelengkapan isi publikasi ini. Pembaca disarankan untuk mencari nasihat profesional secara mandiri.



Milan Cutkovic

Milan Cutkovic

Milan Cutkovic adalah trader dan analis pasar berpengalaman yang mengkhususkan diri dalam forex, indeks, komoditas, dan saham. Ia merupakan salah satu trader pertama yang diterima dalam program Axi Select, yang mengidentifikasi trader berbakat dan mendukung pengembangan profesmional mereka.

Ia memiliki passion untuk membantu orang lain meningkatkan keterampilan trading mereka melalui artikel edukatif, eBook trading, dan konten yang dipublikasikan di blog Axi. Karyanya secara rutin dimuat dan dikutip oleh media internasional terkemuka seperti Yahoo Finance, Business Insider, Barron’s, CNN, Reuters, New York Post, dan MarketWatch.


More on this topic

Baca selengkapnya

Siap untuk melakukan perdagangan dengan keunggulan Anda?

Mulai berdagang dengan broker global yang telah memenangkan penghargaan.

Coba Demo Gratis Buka Akun Live